JAKARTA – KEMPALAN : Indonesia resmi meluncurkan misi diplomasi budaya dan olahraga terbesar dalam sejarah bela diri tanah air. Sebanyak 15 pelatih Pencak Silat internasional bersertifikat resmi dilepas ke 15 negara di lima benua dalam sebuah mandat sakral bertajuk “Tugas Negara”.
Bukan sekadar melatih, para pendekar pilihan ini mengemban misi besar: Mendirikan organisasi resmi Pencak Silat di negara penempatan dan menggalang kekuatan global demi ambisi Pencak Silat Road to Olympic.
Program prestisius ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI dengan Federasi Pencak Silat Internasional (IPSF -Persilat). Gerakan masif ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan penuh, terhitung mulai 18 September hingga 31 Desember 2025.
Misi “Babat Alas” di Negeri Asing
Kehadiran para pelatih ini menjadi ujung tombak Indonesia untuk memastikan Pencak Silat diakui secara organisatoris oleh komite olahraga di berbagai negara. Dengan berdirinya federasi nasional di negara-negara tujuan, jalan bagi Pencak Silat untuk dipertandingkan di ajang Olimpiade akan semakin terbuka lebar.
Daftar Pendekar Pilihan: Duta Bangsa di 15 Negara
Berikut adalah daftar para instruktur elit yang dikirim ke berbagai penjuru dunia:
| No | Negara Tujuan | Nama Pelatih Internasional |
|---|---|---|
| 1 | Bahrain | Muhammad Riski Adi Wijaya & Hamdani Hermizal Razarudin |
| 2 | Kamboja | Lutfan Budi Santoso |
| 3 | India | Suhut Indratno |
| 4 | Irak | Firdhana Wahyu Putra |
| 5 | Jepang | Burhanuddin Muhammad Diyah & Lesmana |
| 6 | Kazakhstan | Eko Febrianto |
| 7 | Laos | Basis Sudrajat |
| 8 | Myanmar | Surianto & Nur Fakih |
| 9 | Arab Saudi | Abdul Malik |
| 10 | Senegal | Tri Juwanda Samsul Bahar & Awaludin |
| 11 | Korea Selatan | Denny Aprisani & Wewey Wita |
| 12 | UAE | Amri Rusdana |
| 13 | Uzbekistan | Andra Ramadhan Malela |
Eko Febrianto: Dari Jawa Timur untuk Dunia
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Eko Febrianto. Atlet sekaligus pelatih kebanggaan Jawa Timur dan kader militan Tapak Suci Muhammadiyah ini mendapatkan mandat khusus untuk “menaklukkan” Kazakhstan.
Saat ditemui usai kedatangan, Eko tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya.
“Saya merasa sangat bangga dan haru atas kepercayaan besar yang diberikan pemerintah kepada saya dan rekan-rekan seperjuangan. Ini bukan sekadar melatih teknik, ini adalah marwah bangsa. Kami membawa nama Indonesia di dada untuk memastikan silat diakui dunia,” tegas Eko dengan mata berkaca-kaca.
Menghitung Mundur Kejayaan
Meskipun waktu keberangkatan para pelatih ini bervariatif, target mereka tetap satu: memastikan bendera Pencak Silat berkibar tinggi di akhir Desember 2025. Dengan langkah agresif ini, Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan sutradara utama dalam membawa warisan leluhur ke panggung olahraga tertinggi di dunia, Olimpiade.
Silat adalah Indonesia, Indonesia adalah Silat! (Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)