JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.949 per dolar AS, turun 24 poin atau 0,14 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.925 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pada perdagangan hari ini rupiah sempat melemah hingga 70 poin sebelum akhirnya ditutup di level Rp16.949 per dolar AS.
“Pada perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 24 poin, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 70 poin,” ujarnya dalam analisis harian.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp16.947 hingga Rp17.019 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah di level Rp16.935 per dolar AS atau melemah 21 poin dibanding penutupan sebelumnya.
Sedangkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di level Rp16.974 per dolar AS, turun 55 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.919 per dolar AS.
Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia yang naik hingga 30 persen dan mendekati level tertinggi sejak awal konflik Rusia–Ukraina pada 2022.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan udara yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat menargetkan fasilitas minyak Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, laporan menyebut Iran juga menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pasokan energi global karena sekitar 20 persen suplai minyak dunia melewati jalur tersebut.
Lonjakan harga minyak juga dinilai berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia. Harga minyak dunia saat ini telah mendekati USD92 per barel, jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang dipatok sekitar USD70 per barel.
Jika harga minyak terus meningkat hingga mendekati atau melampaui USD100 per barel, Ibrahim memperkirakan defisit anggaran negara bisa meningkat dan mendekati batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Menghadapi situasi tersebut, ia menyarankan pemerintah melakukan efisiensi anggaran, mempercepat transisi energi menuju energi terbarukan, serta mendorong stimulus ekonomi melalui deregulasi untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS.