TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak seiring berakhirnya masa gencatan senjata sementara pekan ini. Militer Iran melalui komando operasional tertingginya melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk tidak melakukan serangan baru terhadap Teheran.
Pihak Teheran menegaskan bahwa setiap agresi lanjutan dari Washington maupun Tel Aviv akan memicu balasan yang jauh lebih mematikan. Pasukan Iran mengklaim telah menyiapkan serangan "segera" terhadap daftar target strategis yang telah ditentukan sebelumnya.
Peringatan ini dirilis oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, lembaga yang mengoordinasikan operasi militer reguler Iran dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Mereka menyatakan seluruh kekuatan tempur kini berada dalam posisi siap tempur.
"Pasukan kami yang cakap dan kuat telah siaga penuh sejak lama dan siap menyerang," tegas juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, sebagaimana dikutip dari Press TV, Rabu (22/4/2026).
Zolfaghari menambahkan bahwa serangan balasan tersebut merupakan respons atas ancaman yang berulang kali dilontarkan oleh petinggi militer AS. Ia memastikan pihaknya tidak akan ragu untuk bertindak jika kedaulatan Republik Islam Iran kembali terusik.
"Jika terjadi agresi, mereka akan segera menyerang target-target dengan kekuatan penuh dan menghadapi agresor Amerika dan rezim Zionis dengan pelajaran yang lebih keras dari sebelumnya," lanjut Zolfaghari.
Situasi keamanan ini memburuk setelah upaya diplomatik menemui jalan buntu. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu sejak 7 April lalu guna meredam perang yang pecah pada akhir Februari.
Namun, perundingan damai yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan permanen. Kegagalan negosiasi ini membuat stabilitas kawasan kembali berada di ujung tanduk saat kedua belah pihak kembali pada posisi konfrontatif.
Kini, militer Iran memantau ketat setiap pergerakan pasukan AS dan Israel di sekitar wilayah mereka. Publik internasional pun menanti apakah eskalasi ini akan berlanjut menjadi konflik terbuka yang lebih luas atau kembali ke meja perundingan.