Garudantara.id
Nasional

Strategi Apik Diplomasi Presiden Prabowo : Seribu Kawan, Tanpa Musuh

Oleh Garudantara • 05 Mar 2026

Jakarta - Masih ingat kata-kata Pak Prabowo? Seribu kawan terlalu sedikit, 1 musuh terlalu banyak. Ya, itulah yang kini kita lihat arah diplomasi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang pada saat ini, mulai menegaskan arah diplomasi luar negeri Indonesia melalui prinsip yang ia sering sampaikan: “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”

Pendekatan tersebut terlihat dalam berbagai langkah geopolitik Indonesia, termasuk keterlibatan aktif dalam forum global seperti BRICS serta berbagai inisiatif kerja sama internasional lainnya.

Dilansir dari Bisnis.com, prinsip diplomasi tersebut menjadi dasar pendekatan Indonesia dalam memperluas kerja sama global. Dalam laporan media tersebut disebutkan bahwa bergabungnya Indonesia dalam forum BRICS merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi strategis Indonesia di kancah internasional serta memperluas jaringan kemitraan ekonomi dan geopolitik dunia.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam forum global tersebut merupakan tonggak penting dalam diplomasi Indonesia.

“Pak Presiden dari dulu menganut seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Sehingga bagaimana caranya Indonesia berkolaborasi dan bergabung dengan organisasi-organisasi internasional,” ujar Teddy dalam keterangannya, seperti dilansir Republika dan RM.id.

Menurut Teddy, partisipasi Indonesia dalam KTT BRICS menandai sejarah baru diplomasi Indonesia karena negara ini secara resmi hadir sebagai anggota penuh dalam forum yang mewakili kekuatan ekonomi besar dunia. Forum tersebut kini mencakup negara-negara yang merepresentasikan hampir setengah populasi dunia serta sekitar 35 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global.

Analisis Pengamat

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai pendekatan diplomasi yang dilakukan Prabowo menunjukkan strategi memperluas jaringan kerja sama tanpa menciptakan blok permusuhan baru di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dunia.

Dilansir JakartaTerkini, Rezasyah menyebut Prabowo menggabungkan pengalaman diplomasi Indonesia sebelumnya dengan pendekatan yang lebih aktif di forum global.

“Ia mengambil unsur penting dari presiden-presiden sebelumnya dan menggabungkannya dengan gaya kepemimpinannya sendiri. Ketika Prabowo berbicara di forum global, banyak negara merasa terwakili oleh posisi Indonesia,” kata Rezasyah.


Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen DPR RI, Mardani Ali Sera, juga menilai pendekatan diplomasi tersebut penting dalam konteks dunia yang semakin terpolarisasi.

Dilansir Parlementaria DPR RI, Mardani menyebut prinsip “seribu kawan, tanpa musuh” mencerminkan kepemimpinan global yang berorientasi pada kerja sama.

“Yang saya ingat dari Pak Prabowo, beliau kerap berkata satu musuh kebanyakan, seribu kawan masih kurang. Itu menunjukkan prinsip memperluas persahabatan, bukan memperbesar konflik,” ujarnya.

BACA VERSI LENGKAP