Garudantara.id
Mancanegara

Stok Amunisi Berkurang, Perang Iran vs Amerika-Israel Memasuki Fase Kritis

Oleh Garudantara • 04 Mar 2026

Konflik bersenjata besar antara Amerika Serikat dan sekutunya (termasuk Israel) melawan Iran memasuki fase kritis. Laporan intelijen internasional dan cakupan media besar menunjukkan bahwa stok persenjataan — terutama rudal jelajah dan amunisi pertahanan udara — semakin menipis di kedua belah pihak setelah beberapa hari serangan intensif.

Menurut analis militer, dalam 72 jam pertama pertempuran, Angkatan Laut AS telah meluncurkan ratusan rudal Tomahawk — jumlah yang biasanya memerlukan sekitar lima tahun produksi untuk diproduksi kembali. Hal ini menimbulkan kekhawatiran soal kecepatan habisnya persediaan stok senjata jika konflik berlanjut lebih lama.

Kekhawatiran Stok Amunisi

Beberapa sumber intelijen menyebut Pentagon sendiri memperingatkan bahwa amunisi tempur bisa mulai menipis jika perang berlangsung lebih dari 10-14 hari, terutama untuk sistem pertahanan udara pencegat seperti Patriot atau SM-3 yang dipakai untuk menghadapi gelombang serangan drone dan rudal milik Iran.

Sementara itu, konflik telah menuntut penggunaan persediaan peluru dan misil dalam jumlah besar, dan bahkan mengalihkan sebagian suplai dari front lain seperti Ukraina ke kawasan Timur Tengah. Hal ini meningkatkan kekhawatiran sekutu NATO bahwa dukungan persenjataan akan terhambat karena konsumsi yang cepat di medan konflik sekarang.

Pernyataan Resmi AS

Presiden Donald Trump membantah bahwa stok amunisi habis, menegaskan bahwa AS memiliki cadangan yang “nyaris tak terbatas” untuk jenis amunisi menengah hingga tinggi, serta bahwa industri pertahanan AS telah diperintahkan untuk meningkatkan produksi senjata guna menjaga pasokan. Meski begitu, Trump juga menyatakan serangan bisa berlanjut beberapa minggu — dan bukan hanya beberapa hari — tergantung perkembangan di lapangan.

Posisi Iran dan Prospek Akhir Perang

Iran, di sisi lain, menyatakan bahwa konflik akan berakhir ketika “agresi AS-Israel berhenti”, mengindikasikan bahwa gencatan senjata formal hanya mungkin terjadi jika serangan militer dihentikan oleh pihak lawan.

Namun analis lain menggarisbawahi bahwa konflik besar seperti ini bukan semata soal siapa kehabisan amunisi dulu, melainkan juga soal politik, ekonomi, respon internasional, dan tekanan global untuk mencari solusi diplomatik sebelum stok senjata benar-benar habis.

Kesimpulan Sementara

BACA VERSI LENGKAP