Garudantara.id
Nasional

Sorotan Tajam DPR ke Menhan: Dari Lebanon hingga Kasus Air Keras

Oleh editor • 06 Apr 2026

JAKARTA - Komisi I DPR RI bergerak cepat merespons sejumlah insiden yang menimpa prajurit TNI, baik di dalam maupun luar negeri. Komisi yang membidangi pertahanan ini menjadwalkan rapat kerja bersama Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dalam waktu dekat.

Rencana pertemuan tersebut dikonfirmasi oleh Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto. Fokus utama pembahasan adalah evaluasi perlindungan prajurit menyusul gugurnya anggota TNI saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.

"Kita akan segera jadwalkan rapat dengan Menteri Pertahanan dan Panglima TNI untuk meminta penjelasan komprehensif terkait kondisi keamanan prajurit kita," ujar Utut Adianto kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan.

Selain membahas eskalasi konflik di Lebanon yang merenggut nyawa prajurit, DPR juga menyoroti insiden kekerasan di dalam negeri. Salah satunya adalah kasus penyiraman air keras yang menimpa anggota TNI baru-baru ini.

Anggota Komisi I DPR RI, Andrie Yunus, menegaskan bahwa keselamatan prajurit adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Ia menyoroti perlunya pemutakhiran prosedur standar operasi (SOP) keamanan bagi prajurit yang bertugas di zona merah.

"Kami berduka atas gugurnya tiga prajurit terbaik kita di Lebanon. Kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi posisi dan perlindungan bagi personel yang bertugas di bawah bendera UNIFIL," kata Andrie Yunus.

DPR ingin memastikan apakah peralatan dan perlindungan yang diberikan saat ini masih relevan dengan eskalasi ancaman yang meningkat. Hal ini mengingat situasi di wilayah perbatasan Lebanon yang kian tidak menentu akibat konflik regional.

Tak hanya soal Lebanon, isu teror terhadap prajurit di tanah air juga menjadi perhatian serius para wakil rakyat. Kasus penyiraman air keras dinilai sebagai bentuk ancaman nyata terhadap institusi pertahanan yang harus diusut tuntas hingga ke akarnya.

"Fenomena penyerangan terhadap aparat dengan cara-cara yang keji seperti penyiraman air keras tidak boleh dibiarkan. Kami akan tanyakan sejauh mana proses investigasi internal maupun koordinasi dengan kepolisian," lanjut Andrie.

Rapat kerja ini nantinya juga diprediksi akan membahas postur anggaran pertahanan untuk memperkuat sistem proteksi personel. Komisi I ingin memastikan bahwa setiap nyawa prajurit terlindungi oleh kebijakan negara yang kuat.

Informasi mengenai jadwal pasti rapat tersebut akan segera diumumkan setelah adanya koordinasi dengan pihak kesekretariatan Jenderal DPR dan kementerian terkait. Langkah ini diambil sebagai bentuk fungsi pengawasan legislatif terhadap mitra kerja pemerintah.

Hingga saat ini, pihak Kementerian Pertahanan menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan DPR. Publik pun menanti langkah nyata pemerintah dalam menjamin keselamatan para "benteng negara" yang sedang bertugas.

BACA VERSI LENGKAP