JAKARTA – Situasi di perbatasan Lebanon semakin mencekam menyusul meningkatnya tensi serangan militer Israel. Menanggapi kondisi yang kian tidak menentu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menginstruksikan seluruh prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) untuk segera masuk ke dalam bunker perlindungan.
Langkah ini diambil menyusul aksi provokatif militer Israel yang mulai membahayakan keselamatan pasukan perdamaian di wilayah tersebut. Perintah ini menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi konflik di wilayah perbatasan selatan Lebanon telah mencapai level yang mengkhawatirkan.
Panglima TNI menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan personel tanpa mengabaikan mandat internasional yang diemban. "Perintah masuk bunker ini dilakukan untuk memastikan seluruh prajurit kita tetap aman dari sasaran tembak atau dampak ledakan di area operasi," ungkap Jenderal Agus dalam keterangan resminya.
Prosedur tetap (Protap) masuk bunker atau shelter ini merupakan protokol tertinggi dalam mitigasi risiko bagi pasukan PBB. Prajurit hanya diperbolehkan keluar bunker jika situasi dinyatakan telah terkendali oleh komando pusat UNIFIL.
Keputusan tegas Panglima TNI ini mendapat dukungan penuh dari parlemen di Jakarta. Anggota Komisi I DPR RI menilai langkah tersebut sebagai bentuk perlindungan negara yang sangat krusial bagi para patriot di luar negeri.
Anggota DPR RI, Dave Laksono, menyebutkan bahwa langkah mitigasi ini adalah respons yang sangat tepat. Ia menekankan bahwa nyawa prajurit tidak boleh dikorbankan di tengah gesekan senjata yang tidak terukur dari pihak Israel.
"Prajurit TNI di Lebanon masuk bunker, ini bentuk mitigasi risiko yang sangat diperlukan. Kita tahu bagaimana situasi di lapangan saat ini sangat volatil," ujar Dave Laksono saat memberikan keterangannya kepada media, Minggu (5/4/2026).
Dave menambahkan bahwa tindakan Israel yang kerap mengabaikan zona aman pasukan perdamaian harus disikapi dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Menurutnya, koordinasi antara Markas Besar TNI dan UNIFIL harus terus diperketat agar setiap pergerakan prajurit terpantau secara real-time.
Hingga saat ini, kondisi seluruh prajurit TNI di Lebanon dilaporkan dalam keadaan selamat dan terus memantau perkembangan situasi dari dalam bunker. Meski dalam perlindungan terbatas, komunikasi dengan pusat komando tetap berjalan lancar.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga terus melakukan langkah diplomasi internasional. Tujuannya agar pihak-pihak yang bertikai, terutama Israel, menghormati keberadaan pasukan penjaga perdamaian sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.