Garudantara.id
Internasional

Separuh Negara Dunia Larang HP di Sekolah!

Oleh editor • 04 Apr 2026

Jakarta — Tren pelarangan penggunaan ponsel di sekolah semakin meluas secara global. UNESCO mencatat lebih dari separuh negara di dunia telah menerapkan kebijakan pembatasan gawai di lingkungan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan sekitar 114 sistem pendidikan atau 58 persen negara kini memberlakukan larangan penggunaan ponsel di sekolah. Kebijakan ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring kekhawatiran terhadap dampak distraksi digital terhadap proses belajar siswa.

Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menegaskan bahwa teknologi di ruang kelas harus digunakan secara bijak dan terarah. Ia mempertanyakan efektivitas penggunaan ponsel yang tidak terkontrol dalam mendukung pembelajaran.

“Teknologi harus mendukung pembelajaran, bukan mengalihkan perhatian dari proses belajar itu sendiri,” ujar Azoulay dalam laporan resmi UNESCO.

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan perangkat digital perlu diatur secara jelas agar tidak mengganggu konsentrasi siswa. Menurutnya, tanpa pengendalian yang tepat, teknologi justru berpotensi menurunkan kualitas pendidikan.

Laporan Global Education Monitoring (GEM) menguatkan temuan tersebut. Penggunaan ponsel terbukti dapat mengganggu fokus siswa, bahkan membutuhkan waktu hingga 20 menit untuk kembali berkonsentrasi setelah terdistraksi.

Sejumlah negara telah lebih dulu menerapkan kebijakan tegas. Prancis melarang penggunaan ponsel di sekolah sejak 2018, disusul Belanda dan beberapa negara Eropa lain yang kini membatasi akses gawai selama jam pelajaran berlangsung.

Kebijakan tersebut tidak selalu bersifat mutlak. Dalam kondisi tertentu, ponsel tetap diperbolehkan untuk kebutuhan pembelajaran atau bagi siswa dengan kebutuhan khusus.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Cecep Darmawan, menilai pembatasan ini penting untuk menjaga kualitas interaksi di ruang kelas. Ia menegaskan penggunaan ponsel tanpa kontrol dapat mengganggu konsentrasi serta melemahkan komunikasi langsung antar siswa.

“Pembatasan ini bukan melarang teknologi, tetapi mengatur agar penggunaannya tetap produktif,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan ini juga dinilai mampu menekan risiko perundungan siber di kalangan pelajar. Interaksi sosial secara langsung dinilai lebih sehat bagi perkembangan mental dan emosional siswa.

Dengan tren yang terus berkembang, pembatasan ponsel di sekolah diperkirakan akan semakin luas. Negara-negara kini dihadapkan pada tantangan besar dalam menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan menjaga kualitas pembelajaran.

BACA VERSI LENGKAP