JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru sebesar Rp 17.105. Rekor terburuk ini memicu kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
Bank Indonesia (BI) langsung bereaksi menanggapi kejatuhan mata uang Garuda yang kian mengkhawatirkan tersebut. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan ini tak lepas dari dinamika global yang sangat volatil.
"Pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan eksternal yang kuat, termasuk tingginya yield obligasi AS dan ketidakpastian kebijakan suku bunga global," ujar Destry Damayanti dalam keterangannya.
Destry menegaskan bahwa BI akan terus berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi. Intervensi dilakukan di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna memastikan keseimbangan penawaran dan permintaan valas tetap terjaga.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari parlemen. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Habib Idrus Abu Bakar Alhabsy, mendesak pemerintah untuk segera memperkuat langkah antisipasi guna meredam dampak lanjutan dari pelemahan rupiah.
"Pemerintah harus segera memperkuat antisipasi dan menjaga kepercayaan pasar. Jangan sampai pelemahan ini berlarut-larut karena dampaknya akan sangat berat bagi sektor riil dan inflasi," tegas Habib Idrus.
Menurut Habib Idrus, kenaikan kurs dolar yang menyentuh angka Rp 17.000 merupakan alarm serius bagi ketahanan ekonomi. Ia meminta koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal semakin diperketat untuk mencegah kepanikan di pasar keuangan.
Habib Idrus juga menyoroti pentingnya menjaga stok kebutuhan pokok dan harga energi agar tidak ikut melonjak akibat biaya impor yang membengkak. Kepercayaan investor harus dijaga agar aliran modal keluar tidak semakin masif yang bisa memperparah koreksi rupiah.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih mencermati langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk menahan laju depresiasi. Semua pihak berharap stabilitas nilai tukar dapat segera tercapai demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang tengah berjalan.
Pemerintah dan BI diharapkan tidak hanya sekadar melakukan intervensi pasar, tetapi juga memberikan kepastian regulasi yang mampu menarik kembali minat investor asing ke dalam negeri. Stabilitas rupiah menjadi kunci utama agar target makroekonomi tahun ini tidak meleset jauh dari proyeksi.