Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot melemah tajam pada awal perdagangan Senin (9/3). Mata uang Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS seiring penguatan dolar AS secara global akibat melonjaknya harga minyak dunia.
Pada pembukaan perdagangan spot, rupiah tercatat melemah 0,64% ke posisi Rp17.015 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah indeks dolar AS menguat sekitar 0,7% ke level 99,67.
Tak lama berselang, rupiah masih berada di zona pelemahan dan tercatat di level Rp16.989 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB.
Kepala Strategi Valuta Asing di National Australia Bank Ltd, Ray Attrill, mengatakan penguatan dolar AS saat ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah gejolak pasar energi global.
“Dolar AS mendapat banyak dukungan dari statusnya sebagai aset safe haven tradisional serta posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih. Pada saat yang sama, ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve pada 2026 mulai dikurangi,” ujar Attrill, seperti dikutip Bloomberg News.
Penguatan dolar AS tersebut juga menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Peso Filipina tercatat mengalami pelemahan paling tajam, diikuti baht Thailand, won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Taiwan, dolar Singapura, serta ringgit Malaysia.
Selain itu, yuan China baik di pasar offshore maupun spot juga ikut melemah. Sementara itu, hanya dolar Hong Kong yang tercatat berada di zona hijau dengan penguatan tipis sekitar 0,10%.
Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama penguatan dolar AS. Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan produksi lebih dari 3,5 juta barel per hari pada Januari, keputusan pemangkasan produksi minyak memicu kenaikan harga energi global.
Pada perdagangan pagi ini, minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati level US$110 per barel. Harga tersebut sekitar US$40 lebih tinggi dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.
Kenaikan harga minyak dan menguatnya dolar AS berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam beberapa waktu ke depan.