SURABAYA–PONOROGO– Kenaikan harga plastik yang tajam dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya berdampak pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah, tetapi juga memicu respons dari pemerintah untuk meredam tekanan biaya yang semakin berat.
Di Surabaya, lonjakan harga plastik hingga 30–70 persen sejak pertengahan Maret membuat pedagang kesulitan mengikuti perubahan harga di pasar. “Harga plastik kini sangat fluktuatif… kadang naik hingga tiga kali dalam sehari,” ujar Citra, pedagang plastik di Siwalankerto.
Hal serupa dirasakan pelaku UMKM di Ponorogo yang bergantung pada kemasan plastik untuk produk mereka. Mereka mengaku biaya kemasan kini menjadi beban tambahan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Di Jakarta, pedagang kaki lima hanya berhasil mengantongi keuntungan sekitar Rp500–Rp1.000 per porsi akibat naiknya biaya plastik yang menjadi elemen biaya produksi. Kondisi ini membuat sebagian pedagang enggan menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan.
Pemerintah pusat pun mulai merespons gejolak ini. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mencari sumber pasokan bahan baku plastik alternatif dari luar Timur Tengah untuk meredam tekanan harga. “Kami menjajaki kawasan seperti Afrika, India, dan Amerika untuk sumber baru bahan baku,” kata Budi dalam konferensi pers, Rabu (1/4).
Gangguan terhadap pasokan global ini muncul di tengah ketergantungan Indonesia pada impor nafta, komponen utama produksi plastik. Ketergantungan ini membuat harga plastik rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia yang tengah meningkat.
Selain itu, sejumlah organisasi lingkungan seperti Greenpeace Indonesia menilai kenaikan ini menunjukkan kerentanan ekonomi yang masih tergantung pada bahan bakar fosil serta industrialisasi plastik sekali pakai. Mereka menyerukan akselerasi investasi pada sistem guna ulang dan pembatasan kemasan sekali pakai sebagai solusi jangka panjang.
Para pelaku UMKM berharap kebijakan pemerintah dapat segera memberikan dampak nyata di pasar domestik. Tanpa langkah strategis yang efektif, lonjakan harga plastik berpotensi semakin memperkecil margin keuntungan usaha kecil, sekaligus mengancam daya tahan mereka di masa mendatang.