GRESIK — Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), menegaskan pentingnya dukungan pemerintah dalam memperkuat daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional. Hal tersebut disampaikannya saat Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI ke fasilitas produksi Garudafood Putra Putri Jaya di Gresik, Jawa Timur, Kamis (5/3) lalu.
Dalam kunjungan tersebut, Bambang Haryo menyoroti sejumlah faktor utama yang mempengaruhi daya saing industri mamin, mulai dari ketersediaan energi, kemudahan perizinan, hingga peningkatan produktivitas sumber daya manusia (SDM).
Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah mitra kerja Komisi VII DPR RI, di antaranya perwakilan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Badan Standardisasi Nasional, LKBN Antara, serta TVRI.
Pemilik sapaan akrab BHS ini menilai industri makanan dan minuman sangat bergantung pada ketersediaan energi, khususnya gas bumi. Menurutnya, keberadaan insentif energi menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi biaya produksi di tengah dinamika ekonomi global.
Ia pun menanyakan secara langsung kepada pihak industri mengenai akses terhadap program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang selama ini diberikan pemerintah untuk sektor industri.
“Gas ini paling utama. Apakah sudah mendapatkan insentif HGBT? Alhamdulillah sudah,” ujar legislator dari Partai Gerindra tersebut.
Selain gas bumi, BHS juga menyoroti pentingnya dukungan harga listrik dari Perusahaan Listrik Negara serta kebijakan energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Menurutnya, stabilitas harga energi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dalam kesempatan tersebut, BHS juga menekankan perlunya penyederhanaan proses perizinan dan sertifikasi produk. Ia menilai proses birokrasi yang terlalu panjang dapat memicu ekonomi biaya tinggi yang pada akhirnya menghambat daya saing industri nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan bahwa pelaku industri mendapatkan kemudahan dalam proses perizinan tanpa mengabaikan standar kualitas dan keamanan produk.
“Jangan sampai industri dibebani biaya tinggi hanya karena proses administrasi yang panjang. Ini harus disederhanakan agar industri kita lebih kompetitif,” katanya.
Selain faktor energi dan perizinan, BHS juga menyoroti produktivitas tenaga kerja Indonesia yang dinilai masih tertinggal dibanding beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.
Ia mengungkapkan bahwa produktivitas SDM nasional masih berada di bawah sejumlah negara tetangga, meskipun tingkat upah yang diterima relatif tidak jauh berbeda.
“Produktivitas sumber daya manusia kita dibanding negara-negara Asia Tenggara bisa satu banding tiga. Padahal gajinya hampir sama, tetapi produktivitas di negara lain lebih tinggi,” jelasnya.
Menurut BHS, peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan vokasi, serta penguatan keterampilan tenaga kerja menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya kepastian pasokan bahan baku bagi industri makanan dan minuman. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah kacang tanah yang banyak diproduksi di wilayah Tuban dan Bangkalan.
Bambang Haryo menilai pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara produksi petani dan kebutuhan industri agar rantai pasok tetap stabil.
Menurutnya, apabila pasokan bahan baku tidak terjamin, maka industri akan menghadapi kesulitan dalam menjaga konsistensi produksi.
Di akhir kunjungannya, BHS berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat terus memberikan dukungan nyata bagi pengembangan industri nasional, khususnya sektor makanan dan minuman yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan sektor pertanian sangat penting untuk menciptakan ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan.
“Dengan dukungan energi yang terjangkau, perizinan yang mudah, serta peningkatan kualitas SDM, industri nasional kita memiliki peluang besar untuk semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun global,” ujarnya.