Garudantara.id
Nasional

Macet Ketapang-Gilimanuk, Ancaman Nyata bagi Pariwisata, Begini Kata Bambang Haryo

Oleh Garudantara • 17 Mar 2026

Ketapang – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti krusialnya lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk sebagai urat nadi mobilitas wisatawan menuju Bali.

Menurutnya, persoalan antrean panjang akibat keterbatasan dermaga tidak bisa dianggap sepele. Jika terus dibiarkan, kondisi ini berpotensi langsung memukul sektor pariwisata, yang selama ini menjadi andalan Bali sebagai destinasi kelas dunia.

BHS menegaskan, akses transportasi yang lancar merupakan faktor kunci dalam menjaga daya tarik Bali di mata wisatawan. Ia mengingatkan, pengalaman perjalanan yang buruk akibat kemacetan dan waktu tunggu yang panjang dapat membentuk persepsi negatif.

“Bali itu wajah pariwisata Indonesia di dunia. Kalau aksesnya terganggu, dampaknya bukan hanya ke perjalanan, tapi ke citra kita secara keseluruhan,” ujarnya, Senin (16/3).

Sebagai Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, ia juga menyoroti tren penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Dari sebelumnya sekitar 6 juta, kini hanya tersisa sekitar 2 juta orang atau sekitar 20 persen.

Situasi tersebut dinilai sebagai sinyal peringatan yang tidak boleh diabaikan. Ia menekankan perlunya langkah cepat, terutama dalam pembenahan infrastruktur penyeberangan yang menjadi pintu utama akses Bali dari Pulau Jawa.

BHS pun mendorong percepatan pembangunan tambahan dermaga di kedua pelabuhan. Menurutnya, langkah ini menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kapasitas dan mengurai kepadatan.

“Penambahan dua pasang dermaga di Ketapang dan Gilimanuk harus segera direalisasikan. Dengan itu, sekitar 40 persen kapal yang saat ini belum terakomodasi bisa mulai beroperasi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, keterbatasan dermaga membuat operasional kapal tidak optimal. Dalam satu dermaga, hingga empat kapal harus bergantian, sementara dari total sekitar 55 kapal, baru sekitar 60 persen yang bisa beroperasi.

Kondisi ini, lanjutnya, menjadi penyebab utama antrean panjang kendaraan, terutama saat periode padat seperti mudik dan libur Lebaran.

Karena itu, ia meminta pemerintah segera mengambil langkah nyata, baik melalui penyertaan modal negara (PMN) kepada ASDP maupun dukungan anggaran APBN untuk penambahan fasilitas dermaga.

“Nanti akan kami dorong dalam rapat paripurna DPR. Jangan sampai akses utama ke Bali justru menjadi penghambat dan membuat wisatawan berpikir ulang untuk datang,” ujarnya.

Saat ini, terdapat 17 dermaga aktif di lintasan tersebut, dengan rincian sembilan dermaga di Pelabuhan Ketapang dan delapan dermaga di Pelabuhan Gilimanuk.

Dengan penambahan dua pasang dermaga baru, diharapkan kapasitas penyeberangan meningkat signifikan, antrean kendaraan berkurang, serta akses menuju Bali tetap lancar dan nyaman—sehingga kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata Indonesia tetap terjaga.

BACA VERSI LENGKAP