Garudantara.id
Politik

Kredo Geopolitik Kontemporer: Negara Hadir Mengambil Beban Rakyat (Bag-1)

Oleh Garudantara • 25 Feb 2026

Geopolitik Barat mengajarkan, inti geopolitik adalah lebensraum (living space) atau ruang hidup. Dimensi ini menjadi penting karena seolah menegaskan bahwa ruang bukan hanya tempat berpijak, tetapi prasyarat eksistensi.

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto

KEMPALAN: Dibatalkannya UU Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional  (International Emergency Economic Powers Act) oleh Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS), atau dikenal dengan tarif resiprokal Donald Trump – telah menimbulkan berbagai pendapat.

Mereka mengaji tentang kebijakan proteksionis Presiden Trump melalui tarif yang sebenarnya membebani konsumen AS, bukan beban negara atau beban korporasi yang mengekspor barang ke AS.

Trump menyebut enam hakim MA yang membatalkan kewenangan itu sebagai tidak patriotik dan tidak setia pada konstitusi AS. Tiga hakim yang setuju dengan UU itu menegaskan, kewenangan itu berdasarkan hukum yang luas. MA AS telah bersikap, ketentuan UU yang berdampak luas dan signifikan secara ekonomi, harus memiliki otorisasi yang sangat jelas dari Kongres.

Sebuah riset mengungkap bahwa beban rumah tangga AS bertambah antara 400 – 1.300 dolar AS per/tahun akibat kebijakan perdagangan Trump. Bank Sentral New York menyampaikan hasil studinya, bahwa kenaikan tarif membebani korporasi dan konsumen domestik AS hingga 90 persen.

Bagi kalangan geopolitik, kebijakan tarif resiprokal itu merupakan alat negosiasi dan melindungi industri domestik dalam persaingan industri manufaktur global. Kalangan lain mengatakan bahwa tarif ini dalam jangka panjang justru merugikan AS sendiri. Karena ketidakpastian ekonomi meningkat pada satu sisi, sementara tidak terjadi perbaikan ketimpangan ekonomi (Rasio Gini) di sisi lain.

Begitulah pembelajaran geopolitik global melalui isu di atas. Poin penting untuk pembelajarannya bahwa: geopolitik bertumpu pada kepentingan nasional sambil menyesuaikan diri dengan perkembangan memang menjadi rujukan utama.

Hampir tidak ada negara yang tidak mengutamakan kepentingan nasional. Trump menunjukkan dengan keras, walau dituding korup. Di baliknya sikapnya, Trump memberi pesan tersirat bahwa AS mengakui dan mengalami kekalahan dalam perang ekonomi.

Menyadari posisinya yang seperti itu, Trump bertindak dengan merujuk kekuatan utamanya: “militer dan hulu ledak nuklir sejumlah 5200-5400”. Beberapa ribu di antaranya siap diluncurkan dengan jangkauan ICBM (Intercontinental Ballistic Missiles) atau dikenal dengan sebutan Rudal Balistik Antarbenua.

Dunia terguncang. Terutama usai Iran dibom dalam perang 12 hari, dan rencana akan dibom lagi oleh AS. Kedaulatan Venezuela diruntuhkan, harga diri bangsanya direndahkan dengan ditangkapnya Presiden Venezuela, Nicolas Madura, yang akan diadili di New York. Sementara itu Iran berencana menutup Selat Hormuz. Tujuannya adalah mengganggu pasokan dan harga energi global.

Peristiwa tersebut memberi pembelajaran mendalam bagi panggung geopolitik. Kekuatan berbasis militer menjadi senjata utama. Dampaknya: negara kuat akan bertahan, negara lemah menjadi remah-remah. Dalam kasus Board of Peace, misalnya, terlihat jelas siapa kuat, dan siapa yang lemah – bakal terjajah oleh kehendak subjektif Trump dan Israel. 

Memang pembelajaran geopolitik kerap disebut sebagai science of the state. Lingkup ilmu negara ini adalah kekuasaan politik dalam hubungan antara negara-negara.

Istilah ini dipopulerkan oleh Karl Haushofer (1869-1946), yang memandang geopolitik sebagai suatu disiplin yang awalnya merangkum politik, geografi, ekonomi, antropologi, sejarah, hingga hukum.

Kebijakan geopolitik sebenarnya sudah terjadi sejak Nabi Muhammad SAW mengirim surat ke Romawi (Heraklius) dan Persia (Kisra/Khosrau) sekitar tahun 628 Masehi. Suatu ajakan damai disampaikan dalam rangka kesejahteraan bersama dalam rujukan ajaran Islam.

Kebijakan geopolitik juga dapat dilihat pada Perjanjian Tordesillas (1494) dan Saragosa (1529): “Dunia dikavling-kavling”. Contohnya – Inggris, Belanda, dan Portugal untuk Regional Barat Global.

Spanyol mendapatkan kavling di Regional Timur Global. Maka Spanyol dipaksa meninggalkan Maluku dan Filipina. Kenapa dua perjanjian itu dibuat, oleh karena Turki menguasai Selat Bosphurus. Suatu selat yang memisahkan Eropa dan Asia.

Makanya – Barat pusing. Oleh karena itu, mereka berniat menguasai Selat Malaka dan Selat Makassar. Ini adalah bukti, bahwa perebutan regional strategis selalu terjadi. Negara kuat menjarah dengan kekuatan angkatan laut.

Strategi ini dikenal dengan istilah: “Tiga G,” yakni Gold, Gospel, dan Glory. Gold sebagai wujud dari perdagangan sambil mencari sumber emas. Gospel sebagai tindakan penyebaran agama.

Sedangkan Glory merupakan tindakan menduduki suatu negara atau daerah dengan kekuatan militer. Setuju atau tidak, strategi ini tetap berlangsung hingga kini dengan wajah dan modus berbeda.

Pada era modern kebijakan memperluas penguasaan negara atau pengaruh telah menggunakan sistem dan IT. Dunia pendidikan diintervensi dengan mengajarkan pola pikir, filsafat dan lainnya. Pendekatannya memang multi-disiplin.

Untuk menganalisisnya dibutuhkan banyak data relevan dan signifikan dengan cara pandang yang paling mewakili. Aliran pemikirannya pun beragam.

Tapi, sejak kemenangan AS pada Perang Dunia II, pecahnya Uni Soviet, runtuhnya tembok Berlin, dan bergabungnya Jerman Barat dengan Jerman Timur, luruhnya Cekoslowakia, dan liberalnya Polandia – maka panggung geopolitik didominasi oleh Barat, tepatnya NATO di bawah pimpinan AS dengan mitra utama Uni Eropa.

Padahal jika tujuan geopolitik global yaitu kesejahteraan, kedamaian dan keadilan global, seharusnya NATO sudah tidak relevan lagi karena musuh utamanya, yakni Pakta Warsawa sudah bubar.

Maka fokus pembelajar dan pelaku geopolitik lebih pada unilateral sebagai kelanjutan bipolar dan multilateral. Situasi unilateral ini kerap disebut hyper globalization.

Dan AS justru banyak menunjuk sikap tidak konsisten karena perseteruan tajam antara Partai Demokrat dan Partai Republik disertai ketimpangan rasial serta ketimpangan ekonomi yang mencapai kanker stadium empat.

AS membiarkan blok ekonomi yang digagasnya menjalankan kebijakan masing-masing. Contoh paling nyata adalah Trans Pacific Partnership (TPP), blok ekonomi untuk regional Pasifik dan Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP). AS tidak konsisten sehingga negara-negara tersebut mengambil kebijakan sendiri.

Untuk kawasan ASEAN, TPP dituangkan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dan, Indonesia meratifikasi Konstitusi MEA ini yang dituangkan dalam UU Nomor 38 Tahun 2008. Dalam posisi seperti itu, China hadir. Bersama dengan Korea Selatan dan Jepang, China membuat perjanjian dagang.

Ini menunjukkan negara merupakan entitas administratif dan suatu organisme yang hidup dalam ruang dan waktu dengan berbagai peristiwa dan hubungan sosial politik ekonomi yang mengiringinya.

Negara pun bergerak mengadaptasi dan mengadopsi dinamika kekuatan dan kepentingan. Kemampuan mengadaptasi dan mengadopsi dinamika global ini menentukan negara tersebut berkembang, bertahan atau mungkin justru menyusut dan mati.

Lalu, Friedrich Ratzel (1844-1904) sendiri merumuskan ide yang lebih ekstrem: “hanya bangsa yang unggul yang bisa bertahan hidup dan melegitimasi ekspansi.” Rumusnya sebenarnya merujuk kajian Herbert Spencer (1864), suatu pendekatan biologi yang berbuah survival of the fittest.

Ide inilah yang menjadi roh imperialisme, bahkan neokolonialisme di muka bumi. Jelas, yang kuat berkembang, yang lemah tersingkir. Ide ini dilengkapi dengan pendekatan fisika yang menggambarkan konflik bertujuan untuk dapatnya saling memperkuat para pihak. Dua pandangan ini menjadi rujukan utama sosiologi, pula mewarnai pemikiran geopolitik.

Geopolitik Barat mengajarkan, inti geopolitik adalah lebensraum (living space) atau ruang hidup. Dimensi ini menjadi penting karena seolah menegaskan bahwa ruang bukan hanya tempat berpijak, tetapi prasyarat eksistensi.

Jadi, ketika eksistensial sebuah bangsa tidak maksimal atas tanah di mana ia berpijak – hanya sebagai penonton, misalnya – artinya, geopolitik tengah tergerus alias negara tidak berdaulat.

Karena itu penting menoleh pembelajaran geopolitik Barat pada The Stages of Economic Growth, Manifesto Economya-nya Walt Rostow (1960), contohnya, atau Teori Sistem Dunia oleh Immanuel Wallerstein, atau pada buku-buku globalisasi.

Bagaimana perlawanan terhadap pemikiran-pemikiran tersebut?

(Bersambung ke Bag-2)

*) Ichsanuddin Noorsy, Ekonom dan Pengamat Politik Ekonomi Indonesia

M Arief Pranoto, Direktur Pengkajian Geopolitik dan Studi Kewilayahan The Global Future Institute

BACA VERSI LENGKAP