Taheran - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasar energi global. Pemerintah Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 200 dolar Amerika Serikat per barel apabila konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat.
Dilansir dari The Guardian, peringatan tersebut disampaikan oleh juru bicara Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) setelah serangan terhadap sejumlah fasilitas energi Iran. Ia menyatakan bahwa eskalasi konflik dapat mendorong lonjakan harga minyak yang sangat tajam di pasar global.
“Jika Anda bisa menoleransi harga minyak di atas 200 dolar per barel, lanjutkan permainan ini,” ujar juru bicara IRGC menanggapi serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa konflik yang melibatkan Iran telah mendorong harga minyak mentah dunia menembus 100 dolar per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan tersebut terjadi karena kekhawatiran pasar terhadap terganggunya produksi dan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Krisis ini juga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut setiap hari, sehingga gangguan di wilayah ini berpotensi langsung memengaruhi harga energi dunia.
Selain itu, sejumlah laporan internasional menyebutkan Iran bahkan mengancam akan mengganggu lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut sebagai respons terhadap serangan yang menargetkan fasilitas energi mereka. Langkah tersebut berpotensi memperparah krisis pasokan minyak global.
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik terus meningkat dan distribusi minyak terganggu dalam skala besar, harga minyak dapat melonjak jauh di atas level saat ini. Skenario terburuk bahkan diperkirakan bisa mendorong harga minyak dunia mendekati 200 dolar per barel, yang berpotensi memicu krisis energi serta meningkatkan tekanan inflasi global.
Sejumlah negara dan organisasi internasional kini terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah. Banyak pihak menyerukan de-eskalasi konflik guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global, terutama pada sektor energi yang sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik.