Garudantara.id
Ekonomi

Imbas Konflik Timur Tengah, Sektor logistik dan Transportasi Berpotensi Menyesuaikan Tarif

Oleh Garudantara • 05 Mar 2026

Jakarta - Memanasnya konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk sektor logistik dan transportasi di Indonesia. Kenaikan harga energi dunia akibat konflik tersebut diperkirakan akan meningkatkan biaya operasional transportasi serta ongkos distribusi barang.

Dilansir dari Reuters, harga minyak dunia mengalami kenaikan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Kenaikan harga minyak ini dinilai berpotensi menimbulkan tekanan terhadap biaya transportasi dan distribusi barang di berbagai negara.

Sementara itu, Tempo melaporkan bahwa kenaikan harga bahan bakar memiliki dampak langsung terhadap biaya logistik. Dalam analisis yang dikutip media tersebut, bahan bakar menyumbang sekitar 35 hingga 40 persen dari total biaya operasional transportasi darat dan laut. Apabila harga solar meningkat signifikan, ongkos logistik diperkirakan dapat naik hingga 10,5–12 persen.

Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, Kamis (5/3), menilai konflik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia. Menurutnya, kenaikan harga minyak akan berdampak berantai terhadap biaya transportasi hingga harga barang.

“Biaya energi yang meningkat akan mendorong naiknya biaya transportasi dan harga barang,” ujar Fabby dalam analisis mengenai dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia.

Selain itu, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai sektor logistik menjadi salah satu sektor paling sensitif terhadap gejolak harga energi global. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar dapat langsung meningkatkan tarif angkutan barang.

“Ketika harga BBM naik, dampak pertama yang terasa adalah di sektor transportasi dan logistik. Kenaikan biaya distribusi kemudian akan diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen,” kata Bhima dalam sejumlah analisis ekonomi terkait dampak konflik energi global.

Menurut Bhima, apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan harga minyak menembus level tinggi, biaya logistik domestik berpotensi meningkat cukup signifikan. Kondisi tersebut dapat mempercepat tekanan inflasi, terutama pada komoditas yang sangat bergantung pada distribusi darat seperti bahan pangan dan barang konsumsi.

Selain faktor harga energi, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menimbulkan risiko terhadap jalur pelayaran internasional. Gangguan terhadap rute perdagangan global berpotensi memperpanjang waktu pengiriman barang dan meningkatkan biaya logistik internasional.

Para pelaku industri kini memantau perkembangan konflik secara ketat. Jika eskalasi perang terus berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga merambat ke sektor logistik, perdagangan, hingga harga barang kebutuhan masyarakat di Indonesia.

BACA VERSI LENGKAP