Jakarta – Harga tiket pesawat pada periode libur panjang dan musim mudik kembali menjadi sorotan publik. Meski pemerintah mengklaim telah memberikan berbagai stimulus dan program diskon, banyak masyarakat menilai tarif penerbangan masih tergolong mahal.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut tingginya harga tiket pesawat tidak lepas dari mekanisme pasar, terutama ketika permintaan perjalanan meningkat drastis pada periode peak season seperti Lebaran.
“Tarif pesawat selalu menjadi isu. Saat peak season itu sebenarnya hukum ekonomi, ketika ada high demand kemudian jumlah penerbangan yang tersedia terbatas, maka harganya pasti naik,” ujar Dudy di Jakarta,dikutip, Sabtu (7/3)
Menurutnya, lonjakan mobilitas masyarakat saat libur panjang dan Lebaran membuat permintaan kursi penerbangan meningkat signifikan. Kondisi tersebut mendorong harga tiket naik meskipun pemerintah telah berupaya memberikan sejumlah stimulus.
Namun penjelasan tersebut justru memunculkan kritik dari masyarakat yang menilai kebijakan diskon belum memberikan dampak signifikan. Banyak calon penumpang masih menemukan harga tiket yang relatif tinggi, terutama untuk rute-rute populer menjelang Lebaran.
Selain faktor permintaan, Dudy juga mengungkapkan keterbatasan jumlah armada pesawat menjadi salah satu penyebab mahalnya tiket penerbangan. Ia mengatakan jumlah pesawat di Indonesia belum sepenuhnya pulih sejak pandemi COVID-19.
“Sebelum pandemi ada sekitar 700 pesawat, sekarang yang tersedia sekitar setengahnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kapasitas kursi penerbangan terbatas, sehingga maskapai sulit menurunkan harga tiket ketika permintaan perjalanan meningkat.
Meski pemerintah menegaskan akan terus memberikan stimulus untuk menjaga keterjangkauan tarif, masyarakat berharap ada langkah yang lebih konkret agar transportasi udara tidak hanya menjadi pilihan bagi kalangan tertentu, tetapi tetap dapat diakses oleh masyarakat luas.