Garudantara.id
Internasional

Harga Minyak Naik Lagi, Iran Tuduh AS Picu Krisis

Oleh editor • 09 Apr 2026

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Tuduhan Teheran terhadap Washington dinilai memperburuk kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent tercatat naik ke level sekitar 97 dollar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat mendekati 97 dollar AS per barel, mencerminkan respons cepat pasar terhadap sentimen geopolitik.

Kenaikan ini dipicu pernyataan Iran yang menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata. Kondisi tersebut memicu ketidakpastian baru di pasar energi yang sebelumnya sempat mengalami tekanan penurunan harga.

Analis pasar energi menilai, situasi ini meningkatkan premi risiko geopolitik. “Pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah,” tulis laporan analis yang dikutip dari Reuters.

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut memang menjadi faktor utama penggerak harga minyak global. Iran sebagai salah satu produsen utama memiliki peran strategis, terutama karena kedekatannya dengan jalur distribusi penting seperti Selat Hormuz.

Menurut laporan Reuters, kekhawatiran utama investor adalah potensi gangguan pasokan jika konflik semakin meluas. Bahkan, analis memperingatkan bahwa setiap gangguan di jalur tersebut dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Kondisi ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan pasar energi sedang berada dalam tekanan besar. Krisis yang dipicu konflik Iran bahkan disebut sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak modern.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati perkembangan diplomasi antara kedua negara. Namun hingga kini, belum ada sinyal kuat yang menunjukkan meredanya ketegangan dalam waktu dekat.

Fluktuasi harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan pasar masih sangat rentan terhadap sentimen politik. Kenaikan tajam yang terjadi setelah penurunan sebelumnya menjadi bukti bahwa faktor geopolitik kini lebih dominan dibandingkan faktor fundamental.

Jika ketegangan terus berlanjut, bukan hanya harga minyak yang terdampak. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh dinamika konflik Iran dan Amerika Serikat. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan terbaru sebagai penentu langkah selanjutnya.

BACA VERSI LENGKAP