GROBOGAN – Bencana banjir kembali mengepung wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 16 desa yang tersebar di beberapa kecamatan terendam air akibat luapan sungai setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga lumpuh total. Tak kurang dari 3.176 Kepala Keluarga (KK) dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini, dengan ketinggian air yang bervariasi di setiap titik lokasi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Grobogan, Endang Sulistyoningsih, mengonfirmasi bahwa banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang membuat debit air sungai meluap ke pemukiman.
"Banjir merendam 16 desa di beberapa kecamatan. Total ada 3.176 keluarga yang terdampak berdasarkan pendataan tim di lapangan," ujar Endang saat memberikan keterangan kepada media.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menunjukkan bahwa wilayah yang terdampak cukup parah mencakup area pemukiman warga dan lahan pertanian. Hal ini memicu kekhawatiran akan gagal panen di wilayah tersebut.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Jateng, Muhammad Chomsul, menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan tim lokal untuk melakukan evakuasi. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, terutama lansia dan anak-anak.
"Kami terus memantau perkembangan di 16 desa tersebut. Personel gabungan sudah disiagakan di lokasi untuk membantu mobilitas warga yang terjebak banjir," kata Chomsul.
Hingga berita ini diturunkan, petugas masih berupaya menyalurkan bantuan logistik ke titik-titik pengungsian. Kebutuhan mendesak seperti bahan makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan mulai didistribusikan secara bertahap.
Selain merendam rumah, banjir juga dilaporkan menggenangi sejumlah akses jalan antar-desa. Kondisi ini membuat kendaraan roda dua maupun roda empat sulit melintas, sehingga memperlambat proses distribusi bantuan di beberapa titik.
Pihak BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Pasalnya, prakiraan cuaca menunjukkan intensitas hujan di wilayah Jawa Tengah bagian timur masih tergolong tinggi dalam beberapa hari ke depan.
"Kami meminta warga untuk segera melapor jika debit air kembali meningkat secara signifikan agar langkah evakuasi bisa dilakukan lebih dini," pungkas Endang.
Kini, tim reaksi cepat masih disiagakan di lokasi guna mengantisipasi segala kemungkinan. Penanganan pascabanjir juga mulai direncanakan, termasuk pembersihan material lumpur dan pemulihan sanitasi bagi warga terdampak.