MOSKOW – Presiden RI Prabowo Subianto melakukan pertemuan maraton selama lima jam bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow. Pertemuan tingkat tinggi ini membuahkan sejumlah kesepakatan strategis, terutama di sektor energi dan hilirisasi industri.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa agenda tersebut terbagi dalam dua sesi. Pertemuan diawali dengan diskusi bilateral selama dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan empat mata antara kedua pemimpin selama tiga jam.
"Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi," ujar Teddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).
Sektor energi dan sumber daya mineral menjadi prioritas utama karena dianggap sebagai kebutuhan jangka panjang bagi stabilitas nasional kedua negara. Rusia, sebagai salah satu pemilik cadangan sumber daya alam terbesar di dunia, dinilai sebagai mitra yang krusial.
Selain energi, Teddy menyebutkan bahwa kedua kepala negara berkomitmen memperluas ekspansi kerja sama ke sektor-sektor yang berdampak langsung pada pembangunan. Hal ini mencakup bidang pendidikan, riset teknologi, hingga sektor pertanian.
"Keberlanjutan beberapa kerja sama di bidang pendidikan riset teknologi, bidang pertanian, dan bidang investasi di berbagai sektor terutama pembangunan industri di Indonesia," lanjutnya.
Pemerintah Indonesia memandang Rusia memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam geopolitik global. Status Rusia sebagai pemegang hak veto PBB serta pendiri blok ekonomi BRICS menjadikannya mitra strategis bagi kepentingan nasional Indonesia.
"Kita ketahui bahwa posisi Rusia sangat strategis di dunia global. Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia yang mempunyai sumber daya alam terbesar," tegas Teddy.
Intensitas pertemuan ini juga mencerminkan kedekatan personal yang kuat antara Prabowo dan Putin. Sepanjang satu tahun terakhir, kedua pemimpin ini tercatat telah melakukan pertemuan tatap muka sebanyak lima kali di berbagai kesempatan.
Pertemuan terakhir sebelum agenda ini berlangsung pada Desember lalu di Moskow. Kedekatan yang konsisten ini diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi dan memperkuat ketahanan nasional Indonesia di tengah dinamika global yang tidak menentu.