JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini hanya cukup bertahan sekitar 20 hari ke depan, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi global.
Di hadapan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Bahlil menegaskan bahwa meskipun angka 20 hari tersebut berada jauh di bawah standar internasional—yang umumnya menetapkan cadangan minimal hingga 90 hari—pemerintah menilai kondisi pasokan masih dalam batas aman.
Pernyataan itu disampaikan di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang telah menyebabkan gangguan di rute pelayaran strategis Selat Hormuz—jalur utama pengiriman minyak dunia. Penutupan atau gangguan di selat tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan impor energi, termasuk stok BBM Indonesia yang bergantung pada pasokan luar negeri.
Bahlil mengatakan pemerintah terus melakukan antisipasi terhadap kemungkinan dampak lanjutan konflik tersebut, termasuk pemantauan perkembangan harga minyak mentah di pasar global. Namun hingga kini, dia memastikan belum ada masalah substansial yang memengaruhi subsidi energi atau ketersediaan BBM untuk kebutuhan domestik.
Pernyataan ini menjadi sorotan karena Indonesia saat ini masih bergantung pada impor minyak dan BBM akibat produksi domestik yang belum mencukupi total konsumsi dalam negeri. Kondisi tersebut menempatkan stok energi nasional lebih rentan terhadap fluktuasi pasokan global.
Pemerintah sebelumnya juga telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional guna mencapai cadangan minyak setara 90 hari konsumsi, sesuai standar internasional. Upaya ini meliputi pembangunan fasilitas penyimpanan baru yang bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah volatilitas pasar global.