Garudantara.id
Ekonomi

Gawat! Harga Minyak Dunia Melonjak 10 Persen Imbas Eskalasi Konflik Iran

Oleh Garudantara • 02 Mar 2026

Jakarta - Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 10 persen pada perdagangan awal pekan ini menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran. Kenaikan tajam tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global, khususnya di jalur strategis energi dunia.

Mengutip laporan Reuters pada Senin (2/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent naik ke kisaran 80 dolar AS per barel setelah pasar merespons perkembangan militer terbaru di kawasan Teluk. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan signifikan dalam perdagangan Asia.

Reuters melaporkan bahwa lonjakan harga dipicu kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Investor menilai setiap potensi gangguan di kawasan tersebut dapat langsung memicu lonjakan harga energi global.

Media internasional The Guardian dalam laporannya juga menyoroti meningkatnya premi risiko (risk premium) di pasar minyak akibat ketidakpastian geopolitik. Sejumlah analis energi memperkirakan harga minyak berpotensi menembus 90 hingga 100 dolar AS per barel apabila ketegangan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa lonjakan harga minyak turut menekan pasar saham global. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas dan dolar AS, mencerminkan meningkatnya sentimen kehati-hatian di pasar keuangan internasional.

Kenaikan harga minyak ini juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global, terutama bagi negara-negara pengimpor energi. Analis memperingatkan bahwa lonjakan berkelanjutan dapat berdampak pada biaya produksi industri, harga bahan bakar, serta stabilitas fiskal sejumlah negara berkembang.

Hingga 2 Maret 2026, pelaku pasar masih mencermati perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah. Arah harga minyak selanjutnya dinilai sangat bergantung pada dinamika konflik dan respons negara-negara produsen utama dalam menjaga stabilitas pasokan energi global.

BACA VERSI LENGKAP