Surabaya – Dugaan keterlibatan komponen drone Iran yang berasal dari Indonesia kembali menjadi perhatian internasional. Otoritas Amerika Serikat sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap seorang pengusaha asal Surabaya karena diduga memasok komponen penting untuk kendaraan udara tanpa awak (drone) yang digunakan Iran.
Menurut laporan Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC), seorang pengusaha Surabaya bernama Agung Surya Dewanto dituduh menjual sekitar 100 unit servomotor melalui tokonya, Surabaya Hobby. Komponen tersebut diduga dikirim ke perusahaan Iran Pishgam Electronic Safeh Company (PESC) yang terkait dengan produksi drone militer Iran.
Servomotor merupakan komponen penting dalam sistem kendali drone karena berfungsi menggerakkan bagian sayap atau sistem kemudi pesawat tanpa awak. Komponen ini disebut menjadi bagian dari rantai pasok yang digunakan dalam produksi drone seperti Shahed-136, salah satu drone kamikaze Iran yang banyak digunakan dalam berbagai konflik di Timur Tengah dan perang Rusia–Ukraina.
Namun pihak perusahaan di Surabaya membantah keras tuduhan tersebut. Manajemen Surabaya Hobby menyatakan mereka hanya melayani penjualan di pasar domestik dan tidak pernah melakukan pengiriman komponen ke luar negeri, termasuk ke Iran.
Isu ini kembali mencuat setelah drone Shahed-136 menjadi sorotan global karena harganya relatif murah namun efektif dalam operasi militer jarak jauh. Drone tersebut diperkirakan hanya berbiaya sekitar 20 ribu dolar AS per unit, tetapi mampu menembus sistem pertahanan udara modern yang jauh lebih mahal untuk dihadang.
Hingga kini belum ada bukti publik yang memastikan komponen dari Surabaya benar-benar digunakan dalam produksi drone Iran. Namun laporan sanksi dari pemerintah AS menunjukkan adanya dugaan jaringan pengadaan komponen internasional yang melibatkan sejumlah negara di Asia untuk mendukung industri drone Iran.