Beijing - Langkah militer China kembali menjadi sorotan dunia setelah sejumlah laporan penelitian internasional mengungkap percepatan pembangunan persenjataan nuklir negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Para analis keamanan menilai peningkatan ini jauh melampaui pola modernisasi biasa dan berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan strategis global.
Laporan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebutkan bahwa China kini memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan satu dekade lalu dan diperkirakan masih akan terus bertambah seiring pembangunan fasilitas militer baru.
Selain peningkatan jumlah hulu ledak, Beijing juga dilaporkan membangun ratusan silo rudal balistik antarbenua (ICBM) di beberapa wilayah gurun di bagian barat negara itu. Infrastruktur tersebut diyakini mampu menampung rudal jarak jauh yang dapat menjangkau target antarbenua.
Perkembangan ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat keamanan dan analis strategis di Amerika Serikat. Sejumlah pengamat menilai percepatan pembangunan arsenal nuklir China dapat mendorong perlombaan senjata baru di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Beberapa analis juga melihat perubahan pendekatan dari doktrin lama China yang dikenal sebagai “minimal deterrence” atau pencegahan minimum. Doktrin tersebut selama puluhan tahun menekankan bahwa senjata nuklir hanya digunakan sebagai alat pencegah, bukan untuk strategi perang aktif.
Meski demikian, pemerintah China berulang kali menegaskan bahwa kebijakan nuklirnya tetap bersifat defensif dan tidak bertujuan memicu konflik. Beijing juga menyatakan tetap berkomitmen pada prinsip “no first use”, yakni tidak akan menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir dalam konflik.
Namun di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, para analis menilai peningkatan kemampuan nuklir China tetap menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi stabilitas keamanan internasional dalam beberapa dekade mendatang.